Terkendala Gangguan Server Ipubers, Petani Tidak Bisa Tebus Pupuk Bersubsidi

Lampung Timur – Adanya sistem baru untuk penebusan pupuk Bersubsidi dari pupuk Indonesia, ternyata banyak menimbulkan permasalahan. Yang ada di masyarakat khususnya bagi petani yang tergabung dalam kelompok tani.

Aplikasi digital intergrasi pupuk bersubsidi ( ipubers ). Sistem yang baru diluncurkan oleh Pupuk Indonesia. Ternyata banyak menimbulkan permasalahan.

Seperti yang terjadi pada hari ini di kecamatan Batanghari Nuban tepatnya didesa Gedong dalam pada hari Rabu (28/2/24), disa,at para kelompok tani di jadwal menebus pupuk bersubsidi akan tetapi server pusat dari Ipubers tidak bisa berjalan terjadi gangguan.

Abdul Muthalib salah seorang pengecer di desa tersebut mengatakan ” sebenarnya apabila ipubers bisa berjalan lancar kami dari pihak pengecer bisa sangat terbantu. ”

“Tapi yang menjadi permasalahan kami selaku pengecer, adalah aplikasi server ipubers bermasalah (lelet ).dan ini pun gangguannya tidak terjadi di desa kami hampir di seluruh wilayah kecamatan batanghari nuban” lanjut Thalib.

“Permasalahannya bukan saja Server Ipubers yang bermasalah tetapi kami selaku pengecer didesak oleh para petani untuk segera menyalurkan pupuk karna sudah terjadwal tetapi server ipubers bermasalah dan apabila kami tetap menyalurkan pupuk tanpa melalui aplikasi digital intergrasi pupuk bersubsidi, maka resikonya kami terkena sanksi dari pihak pupuk Indonesia.”

” Adapun sanksi tersebut kami di denda dua juta lima ratus ribu rupiah perseratus kilogram dari pupuk Indonesia selain denda tersebut kami pihak pengecer tidak bisa lagi untuk mengecerkan pupuk bersubsidi, akibatnya sudah banyak pengecer pupuk dari kecamatan Batanghari nuban yang siap mengundurkan diri karena permasalahan ini ” ujar Thalib.

Pernyataan Thalib tersebut diiyakan oleh Korluh Badan penyuluh pertanian ( BPP) Kecamatan Batanghari nuban Saudara Ipung.

Gangguan server tersebut sangat merugikan kami selaku petani, dan akibat keterlambatan pupuk, bisa terjadi kegagalan panen padi pada sawah kami, ungkap Waluyo salah seorang petani desa Gedung dalam dengan nada kecewa. (Syam)

Be the first to comment

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*