
Lampung—-
Dewan Jamu Indonesia (DJI), adalah wadah kolaborasi nasional para pemangku kepentingan yang bertujuan untuk memperkuat, melestarikan, dan menyingkronkan ekosistem jamu sebagai warisan budaya, metode kesehatan, hingga produk ekonomi kreatif.
Fungsi Utamanya adalah menghubungkan akademisi, pelaku usaha, pemerintah, dan masyarakat untuk memajukan industri jamu.Kepengurusan Terdiri dari Dewan Pengawas, Dewan Pembina, dan Dewan Pengurus.
Ketua Umum Dewan Jamu Indonesia Prof. Dr. dr. Mayjen (Purn) Daniel Tjen, Sp.S melantik *Pengurus Dewan Jamu Indonesia Provinsi Lampung yang diketuai Prof. Dr. dr. Asep Sukohar, M.Kes., Sp.,KKLP dan pengurus lainnya untuk periode 2024-2029 di Hotel Swiss bell Minggu (07/06/2026).
“Saya menginginkan jamu ini makin berkembang ke depannya. Oleh karena itu, para pengurus yang duduk di dewan jamu pun berasal dari berbagai latar belakang, ada unsur pemerintah, kesehatan, BPOM akademisi, BRIN, peneliti maupun pengusaha dari kelas kakap hingga jamu gendong, wartawan, inovator dan lainnya,” jelas Ketua Umum Dewan Jamu Indonesia Prof. Dr. dr. Mayjen (Purn) Daniel Tjen, Sp.S turut didampingi Ketua Dewan Jamu Indonesia Provinsi Lampung Prof. Dr. dr. Asep Sukohar, M.Kes., Sp.,KKLP.
Keberadaan wadah ini, lanjut Daniel, tidak lain untuk membantu teman teman pengusaha jamu agar lebih mudah dalam menjalankan usahanya. Sebab teman-teman pengusaha jamu ini jika berurusan dengan kementerian *tidak mudah*. Oleh karena itu keberadaan dewan jamu ini sebagai bamper bagi para pengusaha jamu di Indonesia.

“Dewan Jamu Indonesia itu sifatnya strategis. Sementara gabungan pengusaha jamu bersifat taktis. Dewan Jamu sebagai sarana untuk memfasilitasi pengusaha maupun pelaku jamu gendong agar bisa kita bantu fasilitasi di tingkat kebijakan,” jelasnya
Kita juga ingin, sambungnya, mengembalikan jamu ke tempat yang terhormat. Di dalam negeri kita sudah berusaha di tingkat regulasi, dengan Kementerian Kesehatan, dengan BPOM. Sementara dengan BRIN kita melakukan penelitian bahwa jamu benar benar aman dikonsumsi. Dan jamu itu harus menjadi pola hidup sehari hari. Sebab 62 persen itu populasi Indonesia itu sekarang generasi Z dan milenial. “Maka jamu itu tidak harus pahit namun bagaimana cita rasa kekinian,” ujarnya.
Prof. Dr. dr. Asep Sukohar, M.Kes., Sp.,KKLP juga mengungkapkan bahwa jamu merupakan suatu kekayaan budaya Indonesia yang luar biasa yang sangat holistik antara alam dan budaya sekitarnya. Di jamu itu merupakan satu solusi terhadap berbagai masalah global. Misalnya kita krisis dengan bahan obat, jamu adalah solusi. Bukan Indonesia saja, termasuk global. Karena kita punya sumber daya yang luar biasa.
Kita juga ingin, sambungnya, mengembalikan jamu ke tempat yang terhormat. Di dalam negeri kita sudah berusaha di tingkat regulasi, dengan Kementerian Kesehatan, dengan BPOM. Sementara dengan BRIN kita melakukan penelitian bahwa jamu benar benar aman dikonsumsi. Dan jamu itu harus menjadi pola hidup sehari hari. Sebab 62 persen itu populasi Indonesia itu sekarang generasi Z dan milenial. “Maka jamu itu tidak harus pahit namun bagaimana cita rasa kekinian dan kita akan memperkenal jamu tradisional ke sekolah – sekolah ” ujarnya

Be the first to comment