Potret kehidupan masyarakat sungkai bunga tidak berujung

LAMPUNG UTARA, PESONALAMPUNGNEWS.COM – Pahit dan getir kehidupan dirasakan masyarakat yang ada di 12 desa di 3 Kecamatan Sungkai Bunga Mayang akibat penyerobotan lahan yang dilakukan perusahaan PTPN VII.

Bagaimana tidak, penyerobotan lahan itu membuat mereka harus melalui pahitnya hidup dengan berprofesi sebagai buruh lepas atau yang biasa disebut warga disana sebut upahan serabutan. Terkadang hukum itu benar adanya tumpul kebawah, dan letak pemerintah tidak ketahuan dimana rimbanya.Sebab, tanah yang menjadi tempat menyambung hidup turun-temurun harus rela dipaksa berubah kepemilikannya.

” Beginilah keadaan kami sekarang, tidak tahu harus mengadu kepada siapa karena telah berulang kali kami menyampaikan keluh kesah itu, tapi hasilnya tidak ada. Mulai dari pemerintah daerah, wakil rakyat yang duduk di kursi dewan terhormat dan banyak lagi lainnya. Itupun telah diusahakan berdekade lamanya, bahkan lintas generasi tidak menemui ujung-pangkalnya, ” kata Farhudin Amin warga setempat dengan penuh harapan.

Keadaan gundah gulana tentunya menjadi makanan sehari-hari selama ini. Apa yang dijanjikan tidak ada realisasinya, bahkan lebih naasnya yang menjadi hak rakyat kecil berupa sebongkah tanah diusahakan sebagai ladang pertanian yang menjadi pencaharian utama diserobot paksa. Berbagai cara juga dilakukan, mulai dari pemaksaan dengan tindakan langsung sampai berbau gratifikasi dipertotonkan secara tidak lazimnya.

” Anak-cucu kami harus bagaimana pak kalau begini, jangankan mau hidup layak bertahan dengan keadaan ini saja kami rasa tidak ada kesanggupannya lagi. Bingung tempat untuk mengadu kemana, mungkin karunia ilahi lah yang bisa mengangkat derajat kami yang sedang dibawah, ” tuturnya.

Itulah sekelumit kisah menggugah yang ada di tanah yang dulu kaya akan hasil bumi.Tapi, apa yang di dapat masyarakatnya Kabupaten tercinta ini tidak seperti banyak dibicarakan orang, mereka hanya menjadi penonton setia sementara hasil dinikmati orang luar.

” Kami senderi yang merupakan penduduk asli harus bersusah-payah menyambung hidup menjadi buruh lepas serabutan yang terkadang memenuhi kebutuhan harianpun harus kembang-kempis. CSR atau kepedulian perusahaan anak BUMN pun tidak ada dirasa manfaatnya oleh masyatakat seperti janjinya dahulu, “tambah, Adian Munzir yang tergabung dalam wadah perwarga lainnya.

Itu bukan sekedar isapan jempol semata, semua nampak nyata didepan mata. Namun, kepedulian seperti hilang begitu saja, jangan perusahaan swasta berusaha disana. Yang nyata-nyata itu milik pemerintah pun demikian adanya, dan lagi-lagi masyarakat kecil lah menjadi korban keserakahan dan keangkuhan oknum-oknum bernaung didalam perusahaan sebagai simbol negara itu.

“Itu nyata kok disini, bisa dilihat kehidupan kami disini. Warga lokal harus menerima getirnya kehidupan akibat keserakahan dunia, dan yang lain tak peduli. Kami merasakannya benar, dan tak tahu kapan akan berakhir kisah ini, “tampiknya.

Potret kekerasan yang dipertontonkan dengan telanjang mata nampak tidak kasat dibenak mereka. Dengan mengerahkan petugas keaman dari Brimob Polda Lampung menggunakan senjata lengkap sudah menjadi hal lumrah. Untuk menakut-nakuti warga karena melihat peralatan militer seperti zaman perang dunia kedua lalu.

“Jangankan kami mau mempertahankan hak kami yang sudah turun menurun itu, untuk dekat pun tak sanggup. Karena melihat senjata laras panjang dikenakan petugas kesatuan di Polda Lampung itu membuat ciut nyali. Sampai suatu ketika kami dipenjara di Polres Lampura karena mempeftahankan hak, dan disana untuk keluar disodorkan tanda tangan agar terbebas dari segala delik aduan mereka (pihak perusahaan) jadi menurut saja kalau demikian, ” Pungkasnya. (TM)

Be the first to comment

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*