Proyek Bedah Rumah di Desa Abung Jayo Diduga Bermasalah

Proyek Bedah Rumah di Desa Abung Jayo Diduga Bermasalah

Lampung Utara – Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) terus mengurangi jumlah rumah tidak layak huni di Indonesia, salah satunya melalui program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) atau yang dikenal dengan istilah bedah rumah.

Hal ini merupakan bukti nyata bahwa Pemerintah hadir dalam penyediaan hunian yang layak bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) Kami harapkan dapat meningkatkan kualitas hidup para penerima bantuan memiliki rumah yang lebih layak, sehat dan nyaman,” kata Menteri PUPR Basuki Hadimuljono beberapa waktu lalu.

Untuk lebih meningkatkan kualitas program BSPS, telah diterbitkan Keputusan Menteri PUPR No. 158 tahun 2019 yang menaikan besaran nilai BSPS. Kenaikan dana BSPS untuk dua kategori yakni Peningkatan Kualitas Rumah Swadaya (PKRS) dan Pembangunan Rumah Baru Swadaya (PBRS).

Untuk PKRS dibagi dua kategori yakni di provinsi sebelumnya Rp 15 juta menjadi Rp 17,5 juta terdiri dari komponen bahan bangunan Rp 15 juta dan upah kerja Rp 2,5 juta dan PKRS khusus, Namun kenyataan yang ada sangat, lah berbeda yang ada di salah satu Desa abung jayo kecamatan abung selatan kabupaten lampung utara.

Semen yang di pakai

Berdasarkan informasi yang di himpun di lapangan Diduga oknum ketua kelompok Bedah rumah di salah satu desa abung jayo Wawan selaku ketua kelompok telah melakukan Mark-up untuk pembelian Material bedah rumah yang ada di desa abung jayo yang lumayan pantastis jika kita main kan volume di setiap titik pembangunan bedah rumah,  kurang lebih 20 unit yang mendapatkan program BSPS.

Masyakarat yang mendapatkan bedah rumah seperti pembelian material, dan menurut salah satu narasumber yang juga mendapatkan bantuan bedah rumah, yang tidak mau di sebutkan namanya bantuan bedah rumah ini semua di Kordinir oleh ketua kelompok (wawan) yang yang membawahi 20 unit rumah yang mendapatkan bedah rumah di desa abung jayo dan untuk pembelian material itu Bervariasi tidak sama, sesuai apa yang kita minta seperti ada yang minta besi, ada yang minta bata, kalau dari keselurahan material yang ada itu tidak sesuai yang di anggarkan dalam nominal 15 juta untuk pembelian material, dan yang janggal nya kami hanya di berikan material yang tidak sesuai dengan RAB, yang sudah tertera yang seharusnya menggunakan besi yang berkualitas tapi kami menerima besi banci, dan pembelian semen seharusnya yang berkulitas itu malah yang biasa saja dan tidak sesuai dengan harga yang di belanjakan,” katanya.

Menurut pernyataan dari ketua kelompok WAWAN Saat dikonfirmasi awak media di kediamannya, Jumat (22/11/2019) mengatakan, “seluruh peserta yang mendapatkan Bantuan Bedah rumah tersebut memakai semen holcim dan besi berkwalitas SNI, tetapi yang ditemukan oleh Tim invitigasi dilapangan Semen yang diberikan oleh masyarakat yang mendapatkan Bedah Rumah tersebut adalah semen SERANG+Besi 8 inc dan lebih janggal lagi harga yang diberikan kepada masyarakat adalah Rp.62.500 sementara harga yang disebutkan kepada Awak media saat dikomfimasi di rumahnya adalah Rp.58.000

Sampai berita ini dibuat, Wawan selaku ketua kelompok tidak tahu menahu dan dia tidak tahan pusing,” pungkasnya. (Tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *